Selasa, 26 November 2024

MASJID dan ANAK

Saya termasuk ibu yang terganggu oleh anak-anak yang dibiarkan berisik lompat-lompat lari-larian di dalam ruang salat di Masjid. Pernah di sebuah pusat perbelanjaan, sengaja saya salat di sudut saf terdepan (ruang salat perempuan) berharap salat lebih tenang dan tempat sujud saya tidak dilompati atau diinjak bocah-bocah. 

Ada satu bocah laki-laki umur sekitar tiga tahun, ketawa jejeritan lari-larian, dan... menginjak tempat sujud saya, dua kali dong. Saat itu rakaat terakhir saya. Emaknya "cuma" teriak-teriak Abang jangan Bang, jangan Bang... Yahhh kalo gue jadi emaknya, auto kugendong tu bocah, bawa keluar dulu.

Ketika sedang zikir setelah salam, datang seorang ibu salat di sampingku. Lewat pandangan peripheralku, romannya ni bocah ancang-ancang bakalan melintasi saf kami lagi. Begitu dia lari mendekat, saya hardik (dengan suara berbisik tapi ngegas, mataku melotot, dua tangan merentang menghalanginya), "JANGAN LEWAT ORANG SEDANG SALAT!!! " 

Belok dia. 
Tiap coba-coba mendekat, kupelototin lagi dong 😳 🖐☝ 
Yang ada di otakku, kalo emaknya nggak terima, ayoo gelud gelud dehhhh. 🤪

Emaknya bilang, "Nah kan, diomelin kan, sinii main di sini aja." - males aku ngeliat emaknya. Bodoamat. Lanjut zikir buat nyiram esmosi jiwa. 

Sayang sih sayang, tapi anak juga harus dikenalkan aturan. Jangan playing victim nyalahin masjid tidak ramah anak. Ajarkan anakmu adab. Kalo masih belum bisa diatur dan potensial mengganggu orang yang ibadah, YA DI LUAR SAJA. Ajak main di Funworld, Playtopia, atau amusement park. Mau lompat-lompat lari-larian jumpalitan teriak-teriak, sana puas-puasin. 

Orang yang tilawah saja disunnahkan melembutkan memelankan suara bacaannya ketika ada yang salat. Lahhh mosok bocah-bocah dibiarkan "brutal" gitu?

Sabtu, 02 November 2024

Bismillah: Officially IOU Student.



Empat tahun yang lalu saya daftar ke kampus ini jurusan MAIS (kalo nggak salah singkatan dari Master of Art of Islamic Studies). Bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Ternyata, setelah verifikasi dokumen, karena ijasah S1 saya tidak linear, saya harus melalui Bridge to MAIS (persiapan masuk MAIS kurleb dua tahun). Akhirnya saya memutuskan ke Universitas PTIQ Jakarta.

Pada awal 2024 lewat-lewat lagi tuu, iklannya. Ada jurusan baru yang menarik, Master Psikologi Islam dan Konseling, yang menerima ijasah pendidikan terakhir tidak harus linier. Jurusan ini mengingatkan saya pada impian tiga puluh lima tahun yang lalu, waktu SMA, pernah pingin banget sekolah psikologi buat memahami dan “ngebenerin” diri sendiri.

Setelah nyimak diskusi mekanisme KBMnya tiap Kamis malam, pada Mei 2024 kuberanikan diri meng-upload dokumen syarat pendaftaran. Proses verifikasi 3 hari saja, permohonanku disetujui, akunku bisa diakses untuk melanjutkan pembayaran SPP.

Tapi…

Ternyata masih banyak juga tapinya, sehingga kurelakan semester genap (Fall 2024).

Kenapa nggak lanjut ke S3 aja sihh?
Belum siap aja sihh. 😊 terutama biayanya. Jreeengg. Guedeee banget. Kalau masih muda, peluang dapetin beasiswa gampang. Lahh kalo sudah usia 50++ apalagi saya bukan dosen, cuma emak-emak dasteran. Tapi rindu sekolah. 

Bulan Oktober 2024 adminnya menghubungi saya. Mereka mengundang saya hadir di acara Halal Kulture 1-3 November 2024 ICE BSD Tangerang. IOU buka dua Booth untuk menjawab pertanyaan calon mahasiswa atau orang-orang yang sekedar kepo mengenai jâmi’ah Dr. Phillip Bilal yang berdiri sejak 2007 ini.

Kemarin ditemani si sulung saya datang ke Halal Kulture. Kami tiba jam 12.45 beli tiket masuk Rp. 25.000,- per orang. Modest fashion, F&B, dan travel umrah adalah booth yang mendominasi Hall 3-3a. Ada juga booth finance, filantropis, penerbit buku Islam, dan boarding school. Sedangkan, IOU ada di blok yang isinya sekolah dan pesantren. 

Beberapa hal yang kutanyakan kemarin berkaitan dengan bagaimana mekanisme KBM, berapa banyak yang sudah mendaftar dan belajar di jurusan Psikologi Islam sejak dibuka, apakah ada sesi live zoom diskusi dengan dosen, apakah boleh langsung menghubungi dosen, apakah ada biaya-biaya selain SPP, cicilan SPP, sampai penyetaraan ijasahnya (ribet nggak, lama nggak, mahal nggak). Saya juga berkenalan dan bertukar nomor whatsapp dengan tiga mahasiswi IOU yang siap membantu, menjawab pertanyaan, dan merespon kebutuhan saya di kemudian hari.

Saya pernah dua tahun kuliah secara hybrid (daring dan luring) tapi belum pernah yang 100% daring kek gini sehingga masih OVT apakah mampu menyelesaikan dengan sebaik-baiknya apa yang sudah saya mulai. Bismillah🤲 Mohon doanya lagi yaaa, kak-kakak saleh-salihat🙏😊