Sabtu, 09 Agustus 2025

SLR, Deadline, dan Istikharah: Pengalaman Semester Pertama Kuliah S2 Psikologi Islam IOU

Semester satu itu godaan menyerahnya kuat banget. Liat temen-temen yang pada kopdar, pelesiran, nobar, olahraga bareng, terus aku tengok meja belajarku: berantakan modul, buku catatan, alat tulis, headset, minyak kayu putih, tablet yang pas Zoom Meeting kagak bisa share screen, dan laptop yang bolak-balik mendadak mati padahal lagi huru-hara deadline submit makalah. Tiap hari bukan sekrol tiktok tapi melototin artikel-artikel jurnal.  Bahkan, sedang menikmati diare pun, duduk di toilet, ngobrol ama chatjipiti, "ini apa maksudnya, bro?"

Kadang kepikiran, hidup udah penuh masalah dan lu lagi nambah-nambahin masalah sok-sok kuliah lagi, hadeuh jangan-jangan interpretasi hasil istikharahku salah ya, apa ini kodenya, tapi.... mau men-D-O-kan diri auto kebayang-bayang angka SPP yang udah ditransfer kagak bisa refund. 

Akhirnya tawar-menawar ama diri sendiri, coba lihat duluuu nilai semester ini yaaa, terus refleksi, istikharah lagi, baru putuskan ulang apakah mau lanjut atau lanjut. Pas nulis bagian ini aku teringat feedback dosen (banyak bener catatan kesalahannya) dan nilai tugas pertama yakni SLR 85/100 peringkatku 53 dari 150 mahasiswa, ini meyakinkanku: fixed! aku belum paham samsek  cara bikin SLR ini. Angka nilai segitu dosen kasih  mungkin karena pertimbangan udah ngerjain, submit tepat waktu, dan pertimbangan  akhlak doang. Beberapa kali nanya baik ketika live streaming atau pun by WhatsApp, dosen menjawab dari lemah lembut sampe agak-agak ngegas, belum juga mudeng ni otak. 😜 

Alhamdulillah ndablegh. Kagak baper. Malah tertantang untuk memberikan hasil yang lebih baik daripada tugas pertama. 

Emang nggak ada diskusi grup? 
Ada, tapi sedalam dan seluas mana jawaban yang bisa diharapkan sihhh, wong sama-sama sibuk fokus tugas masing-masing. Saya "mengharamkan" diri sendiri  mengganggu dan merepotkan orang lain kecuali mereka yang menawarkan diri membantu. 

Afirmasi diri: ayo praktekin prinsip sabar dan ikhlas. Mintalah pertolongan Allâh dengan sabar dan salat. Sabar bacain artikel-artikel jurnal, sabar nyimak podcast berulang-ulang, sabar nyatet tema-tema penting, sabar ngobrol sama chatjipiti, sabar latihan lagi, dan sabar menghambakan diri. Aku bodoh, kosong, nggak paham apa-apa. Allâh Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Lembut, Maha Kuasa. Nanya ama diri sendiri: tujuan kamu sekolah lagi emang mau apa?  Istikharah lagi sana... dan... yaudah... Terserah Allâh aja dehhh mo gimana ke depannya. Kalo pilihan ini baik bagiku, bagi keluargaku, bagi agamaku, bagi duniaku dan akhiratku yakin banget pasti diberi jalan. Tapi kalo enggak, Allâhumma inni as aluka ar-ridhâ ba'da al-qadhâ. 

Alhamdulillah semester satu selesai🏁
Egepeee hasilnyaaa. Intip agenda semester dua. Glekk! Ada tiga mata kuliah, dan konon masing-masing tiga research paper. Ya Rabb, semester satu ngerjain dua tugas aja pake drama diare dan kehilangan momen kopdar nobar barbar. Apalagi sembilan makalah. Lanjutin nggak yaaa ke semester dua?  🤔💭

Jumat, 08 Agustus 2025

Mengapa Saya Memutuskan Kuliah Lagi pada Usia 50 Tahun



Bukan soal merasa mampu atau tidak mampu. Tapi dorongan dari dalam diri yang begitu kuatnya. 

Tidak sedikit teman atau saudara yang japri bertanya apa motivasi saya sekolah lagi. Tidak sedikit juga yang Alhamdulillah Masya Allah terinspirasi untuk sekolah lagi namun masih ada keraguan atau kecemasan atau membutuhkan informasi yang lebih dalam untuk mempersiapkan fisik mental dan kemampuan atau skill yang dibutuhkan. 

Masing-masing orang terutama perempuan yang usianya 40 ke atas yang memutuskan melanjutkan studi atau sekolah lagi setelah masa domestiknya ngurus anak sudah dianggap selesai padahal belum selesai juga hehehe, maksud saya punya waktu dan sumber dayanya, alasannya tentu saja berbeda-beda. Kalau saya pribadi karena saya suka menulis, maka saya punya keinginan untuk punya kemampuan menulis secara ilmiah, bukan sekedar asumsi pribadi atau pengalaman pribadi yang subjektif. Saya juga ada rasa kepengen menghasilkan tulisan-tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, ada juga lintasan harap suatu hari nanti tulisan-tulisan saya dapat dikutip oleh para penuntut ilmu di kemudian hari. Allâhumma âmĂŽn. La Haula wa la quwwata Illa Billah. 

Alasan kedua ada banyak pertanyaan pribadi dan ada hal-hal yang saya merasa kurang cukup mendapatkannya hanya dengan duduk di pengajian, hanya dengan jiping atau ngaji kuping - One Way - hanya nyimak ceramah. Ada keresahan-keresahan melihat fenomena akhir zaman. Saya butuh penjelasan secara ilmiah ketika kesulitan menerima doktrin atau jawaban yang hanya berdasarkan asumsi. Ada hal-hal yang menurut saya mendesak perlu bimbingan guru One on One, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berisik di kepala saya. 

Tentu saja ada syarat minimal yang dibutuhkan untuk sekolah lagi. Tergantung jamiahnya, tergantung kampusnya, masing-masing kampus punya kebijakan yang berbeda-beda. Misalnya, waktu daftar S2 jurusan Ilmu Al Qur'an dan Tafsir di Universitas PTIQ dan IIQ syarat minimalnya bisa baca Alquran dengan tajwidnya, ada wawancara dan tes pengetahuan bahasa Arab membaca kitab gundul. S1 tidak harus linier. S1 saya teknik informatika Universitas Gunadarma lulus 1995 jalur non skripsi. Alhamdulillah lulus tes, belajar 2021-2023 banyak pertolongan Allâh, lulus tepat waktu.  Waktu mendaftar S2 psikologi Islam di IOU juga pihak kampus tidak mensyaratkan harus linier S1 psikologi, hanya seleksi berkas dan mengikuti program matrikulasi sebagai syaratnya. 

Pengalaman selama melanjutkan studi berdasarkan usia saya yang sudah LOLITA (lolos 50 tahun) memang butuh effort lebih dibandingkan yang usianya masih muda apalagi fresh graduated. Di luar jam kuliah, saya kursus privat bahasa Arab baca kitab gundul baca kitab-kitab tafsir. Sekarang, di luar jam kuliah saya nyimak YouTube belajar metodologi penelitian, kursus analisis data kualitatif, analisis data kuantitatif, memanfaatkan aplikasi analisis data, dan sebagainya. Fyp Instagram saya dominan topik-topik psikologi. Mengenai biaya rata-rata per semester untuk S2 waktu di PTIQ itu satu semesternya sekitar 4,5 juta, tahun 2021-2023 ya. Sedangkan, S2 Psikologi Islam IOU saya bayar per semester 6juta boleh dicicil. Tidak sedikit kelihatannya tapi kalau kita yakin dengan pertolongan Allah selalu ada jalannya. In Syâ Allâh. 

Alasan yang ketiga adalah menginspirasi anak-anak sendiri supaya punya mindset bahwa umur berapapun kalau memungkinkan sekolah lagi dan sumber dayanya ada, gaasss. Saya berharap keturunan saya sekolahnya tinggi supaya mereka punya pilihan yang lebih baik yang lebih banyak dalam hidupnya dengan izin Allah. Dalam Alquran pun dinyatakan orang yang berilmu itu derajatnya ditinggikan oleh Allah, sedangkan di dalam hadis dinyatakan barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga. Sebetulnya, dua dalil ini saja sudah cukup sih buat kita untuk ngegas. Apapun peran kita di dunia, apakah sebagai ibu atau sebagai ayah atau guru atau karyawan atau pedagang atau pengusaha, itu kalau ilmunya beda maka metodenya akan beda, kalau metodenya beda maka hasilnya pun akan berbeda. Jadi intinya bukan harus sekolah lagi S1 S2 S3 melainkan tetap menuntut ilmu di manapun dan kapanpun. 

Wallâhu a'lam