Selasa, 26 November 2024

MASJID dan ANAK

Saya termasuk ibu yang terganggu oleh anak-anak yang dibiarkan berisik lompat-lompat lari-larian di dalam ruang salat di Masjid. Pernah di sebuah pusat perbelanjaan, sengaja saya salat di sudut saf terdepan (ruang salat perempuan) berharap salat lebih tenang dan tempat sujud saya tidak dilompati atau diinjak bocah-bocah. 

Ada satu bocah laki-laki umur sekitar tiga tahun, ketawa jejeritan lari-larian, dan... menginjak tempat sujud saya, dua kali dong. Saat itu rakaat terakhir saya. Emaknya "cuma" teriak-teriak Abang jangan Bang, jangan Bang... Yahhh kalo gue jadi emaknya, auto kugendong tu bocah, bawa keluar dulu.

Ketika sedang zikir setelah salam, datang seorang ibu salat di sampingku. Lewat pandangan peripheralku, romannya ni bocah ancang-ancang bakalan melintasi saf kami lagi. Begitu dia lari mendekat, saya hardik (dengan suara berbisik tapi ngegas, mataku melotot, dua tangan merentang menghalanginya), "JANGAN LEWAT ORANG SEDANG SALAT!!! " 

Belok dia. 
Tiap coba-coba mendekat, kupelototin lagi dong 😳 🖐☝ 
Yang ada di otakku, kalo emaknya nggak terima, ayoo gelud gelud dehhhh. 🤪

Emaknya bilang, "Nah kan, diomelin kan, sinii main di sini aja." - males aku ngeliat emaknya. Bodoamat. Lanjut zikir buat nyiram esmosi jiwa. 

Sayang sih sayang, tapi anak juga harus dikenalkan aturan. Jangan playing victim nyalahin masjid tidak ramah anak. Ajarkan anakmu adab. Kalo masih belum bisa diatur dan potensial mengganggu orang yang ibadah, YA DI LUAR SAJA. Ajak main di Funworld, Playtopia, atau amusement park. Mau lompat-lompat lari-larian jumpalitan teriak-teriak, sana puas-puasin. 

Orang yang tilawah saja disunnahkan melembutkan memelankan suara bacaannya ketika ada yang salat. Lahhh mosok bocah-bocah dibiarkan "brutal" gitu?

Sabtu, 02 November 2024

Bismillah: Officially IOU Student.



Empat tahun yang lalu saya daftar ke kampus ini jurusan MAIS (kalo nggak salah singkatan dari Master of Art of Islamic Studies). Bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Ternyata, setelah verifikasi dokumen, karena ijasah S1 saya tidak linear, saya harus melalui Bridge to MAIS (persiapan masuk MAIS kurleb dua tahun). Akhirnya saya memutuskan ke Universitas PTIQ Jakarta.

Pada awal 2024 lewat-lewat lagi tuu, iklannya. Ada jurusan baru yang menarik, Master Psikologi Islam dan Konseling, yang menerima ijasah pendidikan terakhir tidak harus linier. Jurusan ini mengingatkan saya pada impian tiga puluh lima tahun yang lalu, waktu SMA, pernah pingin banget sekolah psikologi buat memahami dan “ngebenerin” diri sendiri.

Setelah nyimak diskusi mekanisme KBMnya tiap Kamis malam, pada Mei 2024 kuberanikan diri meng-upload dokumen syarat pendaftaran. Proses verifikasi 3 hari saja, permohonanku disetujui, akunku bisa diakses untuk melanjutkan pembayaran SPP.

Tapi…

Ternyata masih banyak juga tapinya, sehingga kurelakan semester genap (Fall 2024).

Kenapa nggak lanjut ke S3 aja sihh?
Belum siap aja sihh. 😊 terutama biayanya. Jreeengg. Guedeee banget. Kalau masih muda, peluang dapetin beasiswa gampang. Lahh kalo sudah usia 50++ apalagi saya bukan dosen, cuma emak-emak dasteran. Tapi rindu sekolah. 

Bulan Oktober 2024 adminnya menghubungi saya. Mereka mengundang saya hadir di acara Halal Kulture 1-3 November 2024 ICE BSD Tangerang. IOU buka dua Booth untuk menjawab pertanyaan calon mahasiswa atau orang-orang yang sekedar kepo mengenai jâmi’ah Dr. Phillip Bilal yang berdiri sejak 2007 ini.

Kemarin ditemani si sulung saya datang ke Halal Kulture. Kami tiba jam 12.45 beli tiket masuk Rp. 25.000,- per orang. Modest fashion, F&B, dan travel umrah adalah booth yang mendominasi Hall 3-3a. Ada juga booth finance, filantropis, penerbit buku Islam, dan boarding school. Sedangkan, IOU ada di blok yang isinya sekolah dan pesantren. 

Beberapa hal yang kutanyakan kemarin berkaitan dengan bagaimana mekanisme KBM, berapa banyak yang sudah mendaftar dan belajar di jurusan Psikologi Islam sejak dibuka, apakah ada sesi live zoom diskusi dengan dosen, apakah boleh langsung menghubungi dosen, apakah ada biaya-biaya selain SPP, cicilan SPP, sampai penyetaraan ijasahnya (ribet nggak, lama nggak, mahal nggak). Saya juga berkenalan dan bertukar nomor whatsapp dengan tiga mahasiswi IOU yang siap membantu, menjawab pertanyaan, dan merespon kebutuhan saya di kemudian hari.

Saya pernah dua tahun kuliah secara hybrid (daring dan luring) tapi belum pernah yang 100% daring kek gini sehingga masih OVT apakah mampu menyelesaikan dengan sebaik-baiknya apa yang sudah saya mulai. Bismillah🤲 Mohon doanya lagi yaaa, kak-kakak saleh-salihat🙏😊

Rabu, 23 Oktober 2024

Opiniku tentang Perawatan Kanker (3/3)

SAYA PERNAH MENOLAK KEMOTERAPI

Pernah ditulis 5 Juli 2020 di akun media sosialku, ditulis ulang sebagai back-up dan untuk dibagikan dengan harapan menjadi manfaat seluas-luasnya. 

Sempat tersesat di belantara informasi yang saya jelajah sendiri untuk ‘ngeles dari komitmen kemoterapi. Saya jalanin pola makan intermediate fasting (IF) ketofastosis (KF), yang menargetkan gula darah di bawah 60 untuk pasien kanker agar tidak relaps, katanya. 
Saya terpengaruh testimonials, “Banyak lohh yang sembuh, tanpa kemoterapi, yang penting gula darah bertahan 55 atau kurang. Patuh protokol.” 
Saya percaya dong. Komitmen bener jalanin pola makan IF-KF ini. Hanya makan lemak ikan dan atau ayam kampung. Ga makan karbohidrat kecuali bumbu. Enam pekan nggak makan sayur sih nggak masalah, karena saya nggak doyan sayur. Tapi terhalang dari buah-buahan? Ini bikin badan saya seperti orang sakaw. Liat orang lain makan pepaya, nanas, pisang, jambu, semangka.  Badan panas dingin, pusing, emosi labil, temper,  mual muntah, sembelit enam hari. Konsultasi dengan menthornya, slow respon terus. Dan jawaban yang saya terima, tidak pernah memuaskan keingintahuan saya. Makin stress, malah naik gula darah.  Muncul lintasan pikiran, nanti kalo sampe kenapa-napa, siapa mau tanggungjawab? Mereka? Nggak yakin gue! 

Tapi untuk beralih ke pengobatan alternatif, jejamuan, herbal-herbal, saya juga nggak percaya.  Karena di setiap kemasan obat-obatan alternatif tertulis diclaimer, “Bila sakit berlanjut, hubungi dokter.”  

Kembali saya googling informasi dengan kata kunci “pengobatan kanker payudara efektif” sambil sholat istikharah mohon petunjuk, jalan mana yang harus kutempuh. Saya mulai memberanikan diri bercerita lewat akun medsos, berharap ada penyitas kanker yang berkenan memberikan informasi yang valid. 

Saya mendapat japrian dari sesedokter dan dua penyitas kanker. Saya baca pelan-pelan cerita mereka. Saya mulai membuka hati, mendengarkan pendapat suamiku yang pengalaman mendampingi ibunya kemoterapi tahun 2010. Ok, saya mau diajak ketemu dan diskusi dengan dokter onkologi. 

Saya akui, waktu itu saya takut banget ngga kuat efek sampingnya. Saya pernah melihat pasien kemoterapi, bolak-balik transfusi,  muntah-muntah, nggak bisa jalan, kepala botak, kulit menggelap, kurus kering, jelek. Saya takut sel-sel sehat saya ikutan hancur juga. Saya takut setelah kemoterapi, malah kesehatan saya memburuk, malah mati.  Saya juga takut nggak sanggup membiayai pengobatan yang super mahal. Saya takut kami jatuh miskin gara-gara ngobatin saya. Tahun itu kami mau naik haji. Sudah manasik tiap Sabtu, saya kuatir banget gagal berangkat. 

Dokter onkologi berhasil meyakinkan saya bahwa efek samping bisa diminimalisir. Obat kemoterapi jaman now udah canggih, premedikasi nggak bikin mual muntah hebat. Namanya juga badan sehat, terus dimasukin obat. Ada hari-hari nggak nyaman sedikit, tapi masih bisa beraktifitas, sholat, olahraga, dan tetap produktif.  Botak, iya. Tapi setelah pengobatan selesai, tumbuh lagi kok rambutnya, lebih bagus.

Biaya gimana? 

Kami memastikan ke pihak asuransi dan BPJS peluang jaminan pengobatan 6x kemoterapi dan 18x herceptin.  Saya sudah mempersiapkan mental untuk jawaban terburuk. Saya pasrahkan diri kepada Ar Rahman Ar Rahiim.

"Ya Rabb,  penyakit ini Engkau hadiahkan kepadaku pasti sepaket dengan hikmahnya dan jalan keluarnya. Jika umurku masih panjang, pasti Engkau beri jalan kesembuhan. Jika usiaku tak lama lagi, mohon ampuni dosa-dosaku dulu semuanya Ya Rabb.  Dan aku tidak pernah kecewa (setelah berdoa) kepada-Mu. " 

Saya bicarakan rencana-rencana kepada keluarga,  mana asset yang diwakafkan, mana yang saya akan jual. Bahkan saya sudah berwasiat kepada anak-anak,  apapun yang terjadi, mereka harus tetap berjuang, melakukan yang terbaik, all-out,  untuk meraih cita-cita.  Saya datangi keluarga besar, minta maaf, minta keridhoan mereka. Tiap kopdar, saya minta maaf pada teman-teman.  Dan mereka mendoakan kesembuhan saya dan kemudahan segala urusan kami. Saya mensyukuri karunia, keluarga dan sahabat mendukung penuh pilihan-pilihan saya.

Lima kali kemoterapi, delapan belas kali targeted therapy herceptin yang harganya luarbiasa,  dan tiga puluh kali radiotherapy,  Allah menolong kami.  Fisik saya dikuatkan. Haji 42 hari nggak kena batuk-batuk, dikasih kekuatan jalan kaki belasan kilometer, makan apaaa aja terasa nikmat, ma syaa Allah. Biaya pun, dikasih jalan keluar yang tidak kami sangka-sangka,  sehingga mobil yang kami jual untuk bekal pengobatan malah Allah ganti dengan yang lebih baik. La haula wa la quwata illa biLLaah. 

11 Mei 2020 evaluasi keempat Alhamdulillah amaan bersih dari si caca.  Allahu Akbar!  ✊

Kami berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari kekambuhan, dan ujian penyakit berbahaya lainnya.  Kami memohon kepada-Nya sehat wal'aafiyat di sisa usia. 🤲

Banyak orang bertanya,  "Gimana caranya sabar?" 

Saya nggak tahu jawabannya.  Tapi dari pengalaman kejadian ini, saya mengambil hikmah,  banyak bersyukur dan makin berserah diri, bisa menjadi kekuatan dari sabar itu sendiri. 

Tidak semua yang kita harapkan, terwujud.  Tidak semua yang kita kuatirkan, terjadi.  Rencanakan saja yang terbaik, lakukan saja yang terbaik, tulus, team work, dan berserah diri kepada Allah Rabbul'alamiin. Dia Yang Paling Tahu apa yang terbaik buat kita. 

Wallahu'alam bish showab.

Opiniku tentang Perawatan Kanker (2/3)

Pengalaman pribadi yang pernah ditulis di akun media sosialku 13 Maret 2018 dan sengaja ditulis ulang di blog ini untuk memudahkan pencarian, sebagai back-up, dan untuk dibagikan kepada khalayak dengan harapan menjadi manfaat seluas-luasnya. 

Sejak mengetahui adanya benjolan di dada kanan, saya mengadukan keresahan pada Tuhan, ini apa? Kanker kah? Ganaskah? Pingin ke dokter, tapi dokter yang mana? Ini 'kan wilayah sensitip. Bakalan bolak balik.. dibuka, diraba, ditrawang.. Jangan pake nyanyi bacanya. 😊

Mau bertanya sana sini, ada rasa enggan, takut jadi ribet malahan. Bertanya juga pada seorang sahabat, dia cuma menyarankan cari dokter bedah. Tapi tak sebut nama. Suamiku nanya, "Kamu mau sama dokter bedah perempuan? Kita googling yuk."

Saya sholat istikharah, mohon petunjuk, dokter mana yang terbaik untuk saya, tolong kasih tandanya, apalah-apalah. Saya nggak tahu yang mana. Saya hanya mau konsultasi dan tindakan sama dokter perempuan, kalo bisa yang seiman.

Pertama telepon RS MMC Kuningan, tapi sayangnya Dr Farida sedang umroh, sedangkan saya pingin secepatnya "dibongkar" supaya ketauan ini tuh apa. Makin lama "si dia" bersemayam di dadaku, makin stress aku. 😊

Lewat mbah Google suamiku menemukan profil Dr Alfiah Amirudin di RS Mitra Kemayoran. Prakteknya hari Senin siang, qadarullah suami tidak bisa mendampingi saat periksa. Saya minta temenin, mama. Sebetulnya nggak tega ngasitau mama, takut nambahin beban pikiran. Tapi saya butuh banget doa beliau.

Waktu lihat ekspresi Dr Alfi ketika mengobservasi dan melihat hasil mamografi dan USG saya, ada raut prihatin di wajah beliau, "Keras, tapi masih kecil sih, semoga ibu kuat ya. Tapi saya nggak berani biopsi. Kuatir kalo ini jenis yang ganas, kena jarum biopsi dia marah. Saran saya, operasi, pisahkan dari rumahnya, pisahkan dari sumber makanannya, baru dibiopsi."

Selasa saya tanda tangan jadwal operasi hari Kamis jam 6 sore. Masih ada waktu dua hari dua malam, untuk kembali bermunajat, mohon petunjuk-Nya, bener nggak sih keputusan saya, atau ada opsi lain yang lebih baik, tolong kasih tandanya. Baca Quran berlembar-lembar. Sebagian simpanan logam mulia, saya infaqkan. Berharap kekuatan, kesabaran, dan pertolongan-Nya.

Saya nggak tahu apa-apa. Saya merasa tak berdaya. Saya cuma punya rasa takut. Takut salah keputusan. Tapi saya juga punya rasa yakin dan percaya Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Saya berserah. Whatever will be, will be.

Pun ketika hasil patologi dan IHK (imunohistokimia) keluar, hasilnya triple plus. Saya dirujuk ke Dr Findy KOHM (Konsultan Onkologi Hematologi Medik). Kayak mimpi, "Jadi beneran gue kena cancer nih?"

Sebelum ketemu dokter Findy, saya istikharah, mengadukan kegalauan saya, "Dr Findy galak nggak yaa, baek nggak yaa, komunikatif responsif nggak yaa, pintar empati nggak yaa, sabar nggak yaa. Ya Rabb, kasih saya kekuatan, kesabaran yang berlimpah."

Alhamdulillah pertemuan pertama dengan Dr Findy memberi saya kesan positif. Saya merasa nyaman, bertanya apa saja dengan beliau. Masih muda, 30an. Pilihan kata-katanya cerdas, efektif menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. I trust her.

Kemoterapi adalah momok, mengerikan sangat. Tapi untuk kasus IHK saya yang "paket komplit" ini tidak ada pilihan lain. Harus kemoterapi, secepatnya.

Saya tanda tangan untuk kemoterapi pertama. Sabtu 12 Mei 2018. Dan melanjutkan istikharah, "Bener nggak sih, Ya Rabb, keputusan saya ini, atau ada opsi lain kah, mohon petunjuk-Mu, Wahai Yang Maha Mengetahui.. Hamba berserah diri."

Begitu pun, ketika harus menjalani terapi target Herceptin 18 kali. Tiap tiga pekan, infus. Harga per ampul sekian belas jutaan. Harga yang infusan di atas 20juta per kantong. Hitung saja kalo 18 kali jadi berapa totalnya. Ya Rabb, uang sebanyak itu bisa dapet dari mana, ngga kelihatan.

Tiada daya dan kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan Allah saja. Kami tetap berjalan dengan keyakinan: Allah ngasih ujian, pasti sepaket dengan kunci jawabannya. Pikiran, ucapan, adalah Doa.

Agar selaras dengan doa, ikhtiar langit kami lanjutkan. Perbanyak rakaat sholat, perpanjang sujud, mohon ampunan, berserah pasrah. Saya perbaiki hubungan silaturahim. Sedekah, wakaf, baca Quran lagi.

11 Mei 2019.

Operasi. ✔️
Kemoterapi 5x. ✔️
MLDV. 12x. ✔️
Radiotherapy 30x. ✔️
Targeted therapy 18x. ✔️ selesai. 
Sekarang sedang terapi hormon, minum dua tablet tamoxifen tiap hari, selama 5 tahun. 

.

20 Juni 2020
Evaluasi kedua, Alhamdulillah bersih. Semoga nggak balik-balik lagi yaaa. 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala berkenan mengabulkan doa semua orang yang sayang pada kami. Sehat sejahtera istiqomah iman Islam di sisa usia🤲Aamiin. 🤲

===

Ditulis ulang untuk dibagikan sebagai ungkapan syukur, terimakasih pada keluarga dan sahabat-sahabat surgaku yang setia mendampingiku, semoga menjadi inspirasi, motivasi sesama mukmin, fastabiqul khairat. 💖💖💖


Opiniku tentang Perawatan Kanker (1/3)

Opiniku tentang perawatan kanker berdasarkan pengalaman pribadi dan observasi selama lebih dari lima tahun terhadap teman-teman yang bergabung dalam komunitas penyintas kanker payudara CISC-HER2, SMARTPINK, dan MSS.  

Kalo hasil pemeriksaan sudah fixed positif kanker, sebaiknya keluarga mendorong pasien tempuh perawatan jalur medis. Segera. Jangan tunda, nanti menyesal.  Penyakit ini berpacu dengan menit. 

Diskusilah dengan dokter onkologi, yakni dokter yang bertahun-tahun belajar pengobatan kanker dan memang fokusnya menangani pasien kanker.  

Jangan telan mentah-mentah informasi orang-orang yang tidak kompeten.  Kan banyak tuh sliweran informasi di internet. Dokter onkologi, bukan. Penyintas kanker, bukan. Tapi sharingnya benar-benar memprihatinkan, menyesatkan pasien kanker baru. 

Ibarat saya mau bikin kue bika ambon yang enak, tapi nanya-nanyanya sama kang bakso. Gimana tuh, jadinya?  😄

Ada penyintas tumor (bukan kanker yaa) yang pernah diradiasi,  terus cerita ke pasien kanker baru bla bla bla hingga akhirnya pasien tersebut menolak diradiasi dengan alasan takut keropos tulang. Padahal penyebab keropos tulang itu banyak. Jarang kena matahari, jarang bergerak aktif, jarang berolahraga,  ini penyebab terbanyak pengeroposan tulang.


13 September 2019


Dua pekan lalu bezoek teman,  kenalan sama pasien sebelahnya.  Masih muda, cantik.  Enam bulan lalu tumornya masih kecil banget.  Dokter sudah menyarankan segera operasi, radiasi,  dan kemoterapi. Tapi pasien nekad bertualang minum herbal dan pakai jaket warsito.  Qadarullah beberapa bulan kemudian benjolannya membesar, keadaan pasien memburuk, sampai nggak bisa jalan. Tapi tabib-tabib yang mengobatinya, meng-claim bahwa itu proses penyembuhan. 

Akhirnya dibawalah kembali ke RS. Observasi, CT-scan, MRI, ronsen,  USG, dan sebagainya.  Kankernya sudah menyebar ke tulang dan hati, innalillahi wa inna ilaihi rojiun. 

===

Tadi pagi mengunjungi seorang guru ngaji, suaminya yang kanker.  Bulan lalu dokter sudah menyarankan kemoterapi dan operasi. Tapi pasiennya keukeuh bertualang herbal dulu.  Sepekan pertama terlihat segar bugar, keluhan-keluhan seakan hilang. Masuk pekan ketiga,  nggak bisa BAK/BAB berhari-hari, kesakitan, akhirnya masuk IGD, dirujuk ke bagian Onkologi RSPAD,  stadium 4. 😭

===

Saya juga tahun lalu takuuutt banget dikemoterapi.  Takut mati. Takut jelek.  Takut ini itu anu.  Bayangannya mengerikan aja deh. Tapi dijelaskan ulang-ulang oleh dokter.  Kanker itu ada tiga macam kecepatan pembelahannya.  Grade 1,2,3. Hasil patologi tumor saya grade 3, which is,  tipe yang cepat sekali perjalanannya.  Kalo istilah dokter saya, "ibuk dapet yang galak nih.. Nggak ke-uber kalo hanya pengobatan herbal dan pola makan ketofastosis. Apalagi status HER2+++ ER/PR + mumpung masih stadium 2B, dengan kemoterapi dan herceptin, angka harapan hidup bisa sampai 15 tahun dengan izin Allah." 

Saya sholat istikharah, minta petunjuk Allah,  dan mungkin banyak doa dari keluarga, sahabat, guru-guru ngaji saya,  keyakinan hati berubah.  Malah pengen kemoterapi secepatnya.  

===

Alhamdulillah, banyak hikmahnya. Banyak pertolongan Allah,  haji, umroh,  jalan-jalan ke Bangkok, bolak balik Bandung, Cirebon, Yogya, Padang. 

Ma Syaa Allah tabarakallah. 

Saya jadi pengen kampanye terus nih.  Kalo ada keluarga atau teman atau kenalan, yang punya keluhan benjolan. Atau sudah didiagnosa positif kanker, apalagi grade 2,3, meskipun tumornya masih keciiiilll banget,  jangan pernah nekad bertualang herbal.  Langsung tindakan medis, secepatnya. 

Semakin awal terdeteksi, semakin dini ditindak medis, harapan sembuhnya bisa 100% dan payudara bisa diselamatkan.  Pergi ketemu dokter ahli kanker,  nurutin saran beliau, perbanyak rakaat sholat,  perbanyak membaca Al Quran,  mohon petunjuk jalan kesembuhannya lewat mana, jangan pernah nekad sok menjadi dokter sendiri.  Medis, segera, yaa. 😊

Semoga Allah melimpahkan kesehatan bagi kita semua, di sisa usia,  untuk menyempurnakan ibadah. Aamiin.

Tumor (yang bukan kanker yaa)  jelas berbeda jauh dengan tabiat kanker.   

Kanker itu kayak monster yang diam-diam bergerilya tau-tau 'dah nyampe mana, grogotin organ vital mana. Jadi tidak cukup hanya ubah pola makan dan imunoterapi. Harus dibasmi sampai ke akarnya. 

Kalo memang masih ada semangat dan keyakinan hidup umur panjang ikhtiarlah yang terbaik. Lawan ketakutan-ketakutan dari omongan orang,  justru dengan menghadapinya, menjalaninya.  Tempuh jalur medis sebelum terlambat. Ada BPJS. Kanker pada stadium awal, jika ditangani segera,  kemungkinan sembuhnya 80-100% biidznillah.

Jumat, 18 Oktober 2024

HARI PERTAMA DI KELAS BASIC 3

Lebih dari 30 tahun yang lalu, pada waktu masih SMA, saya pernah kursus bahasa Inggris selama dua tahun. Walaupun tidak sampai lulus dari level mahir, kosa kata yang masih diingat, beberapa ungkapan, idiom, dan pemahaman tenses sederhana bisa dibilang masih selamat, karena saya suka denger lagu dan nonton film berbahasa Inggris. Saya mulai merasa butuh kursus lagi ketika berhadapan dengan referensi berbahasa asing pada masa studi pascasarjana 2021-2023. Setelah lulus🎓 November 2023 saya kepikiran melanjutkan kursus bahasa, baik British English maupun Lughoh al 'Arabiyah. 


Saya mengambil kursus bahasa Inggris di ILP Rawamangun karena lokasinya dekat tempat tinggal, jalan kaki santai 10 menit sampai. Target antaranya adalah untuk memperkaya kosa kata, memahami penggunaan tenses, preposisi, ungkapan-ungkapan yang lebih sopan, dan sebagainya, dengan tujuan akhir agar lebih percaya diri dalam memahami referensi berbahasa Inggris, menuangkannya dalam bentuk tulisan, dan mendapatkan lingkungan ngobrol berbahasa Inggris. 

Kamis, 17 Oktober 2024, adalah sore pertama saya di kelas Basic 3. Ada enam siswi yang hadir. Pokok bahasannya tentang preposisi between, opposite, next to, in, on, at, dalam konteks menunjukkan lokasi di dalam sebuah gedung dan menunjukkan lokasi di area bagian dari kota. Pertemuan ditutup dengan membuat beberapa kalimat yang menunjukkan lokasi rumah masing-masing dengan menggunakan preposisi yang sudah dipelajari. 

Karena sampai pulang saya masih agak bingung dalam penggunaan preposisi on, in, dan at yang lebih tepat, maka sampe rumah setelah bersih-bersih saya tanyakan ChatGPT. Berikut informasi yang saya peroleh. Silakan klik di sini. 👉 Perbedaan Antara Road dan Street, serta Kaitannya dengan Penggunaan Preposisi In dan On📍 dan klik di sini 👉📍 Panduan Lengkap Penggunaan Preposisi In, On, dan At dalam Bahasa Inggris 🚩 Semoga bermanfaat yaa. 

Rabu, 16 Oktober 2024

AL KASB

Ini ceritaku pada 23 Oktober 2023.

Al-Kasb. 

Setiap manusia pasti memiliki keinginan, harapan, impian, cita-cita dalam hidupnya. Ada yang ngegas, harus dapat, harus dapat. Ada yang skeptis pesimis mungkin akibat pengalaman di masa lalu. Ada yang pasrah ala jabariah. Ada juga yang berada di tengah-tengahnya. 

Aku yang sekarang, sedang berada di fase; enggak mau ngoyo. Ketika dorongan impian itu hadir, akan "kutanyakan" dulu kepada Sang Maha Mengetahui. Apakah jalan ini baik untukku, untuk agamaku, untuk duniaku, untuk akhiratku, untuk keluargaku. Jika memang baik, maka yang aku minta kemudian adalah petunjuk, mulai dari mana dulu.

Plan the action. 
Rencanakan strateginya, mau ngapain dulu, ketemu siapa, bagaimana caranya. Menulis rencana kerja di "to do list" ini penting demi efisiensi waktu, tenaga, pikiran, perasaan, dan duid. He he.  

Take action. 
Kerjakan rencana-rencana itu dengan KOMITMEN. - kenapa kata ini diketik huruf besar semua? Karena, sependek pengetahuan dan pengalaman pribadi, peran komitmen inilah yang akan membedakan hasilnya. Komitmen ini berada dalam jangkauan kuasa kendali manusia. Komitmen ini sudah termasuk disiplin dan menentukan skala prioritas. 

Perlu juga belajar mengenali kelemahan dan kekuatan diri sendiri. Contoh; kelemahanku di usia dan keterbatasan dana. Siapkan strategi untuk mengatasinya. Kekuatanku di waktu luang, maka syukuri dan berdayakan secara maksimal.  

Setiap perjalanan, ada tantangannya. Setiap perjuangan, ada ujiannya. Ini keniscayaan. Inilah hakikat hidup. Maka, yang dapat dilakukan dalam menyikapinya:

Husnuzh-zhân. 
Bersangka baik kepada Allah ini penting banget dalam proses perjalanan. Kita akan dimampukan berpikir positif dalam menyikapi tantangan dalam perjuangan. Kita akan dimampukan untuk evaluasi dan menemukan banyak hal yang sangat disyukuri dalam setiap keadaan.  

Berdoa dan berserah. 
Ingat-ingat kembali niat awal memilih jalan ini. Perbanyak istighfar taubat karena manusia tak pernah luput dari dosa satu hari pun. Perbanyak syukur atas setiap pencapaian seremeh-temeh apapun. Doakan orang lain, karena doa itu akan memantul kembali kepada yang berdoa.  

Berterimakasihlah kepada semua orang yang menyayangimu. Maafkan mereka yang bikin kesel, he he. Jangan menyimpan rasa kesal atau benci, karena perasaan negatif ini akan menjadi penghalang. Maafkan, maafkan, maafkan. 

Ingat-ingat kembali niat awal memilih jalan ini. Doa lagi. Berserah dan tetap fokus pada tujuan akhir. Tawakkal. Berserah, bukan menyerah. Fokus berusaha menemukan hal-hal yang bisa disyukuri dalam setiap keadaan. Alhamdulillah. Mâsyâ Allah tabarakallah.

MENGIKHLASKAN

Akhirnya… Setelah melalui diskusi dengan keluarga dan teman-teman, mempertimbangkan masukan dari sahabat, salat istikharah dan “ngobrol” dengan Sang Maha Mengetahui yang lahir dan yang gaib (masa depan), semoga Allah meridai keputusanku menunda S3.

Terus, ngapain dong, abis ini? Ijasah belum diterima karena masih ada persyaratan yang belum dilengkapi (buku ber-ISBN masih proses cetak). Mau apply jadi dosen belum bisa kân. Mosok capek-caapek lulus S2, kerjanya nonton drakor, ruugi doung. 😜

Enggak gitu juga sih. Sejujurnya, belum balik kebiasaan rally drakor, kok. Padahal sudah dicoba, kepingin nuntasin serial Under The Queen’s Umbrella belum berhasil, masih nyangkut episode 5, setengah musim aja belom. Padahal kecepatan disetting 1.50x. Apalagi nonton yang lagi viral Queen of Tears, masih wacana, belum sempat satu episode pun.

Jadi, selain tetap mengajar tahsin Al Qur’an para mahmud (mamah-muda) yang luarbiasa semangat belajarnya, niatku dua tahun ini mau fokus tahfiz di LBQ Usmani, insyâ Allah. Aku berharap ritme hidupku bisa melambat, lebih slow-motion.

Karena, selama sekolah S2 kemarin proses tahfiz aku memang keserimpet-keserimpet, dua kali cuti. Ya, keteteran. Waktu dan energi kufokuskan nyusun makalah, berburu referensi, baca, catat, diskusi, rangkum dan analisis. Apalagi bulan-bulan terakhir menyelesaikan tesis dan mempersiapkan sidang. Sisa tilawah ODOJ doang tiap Subuh. Hari tahfiz hanya berhasil setor satu halaman dan murajaah dua halaman.

Sempat menyalahkan diri sendiri, belajar S2 jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsîr, tapi hafalannya terabaikan, gimana sih. Tapi kemudian istighfar, sadar kapasitas diri, dan bersyukur masih diberi kesempatan sekolah lagi, belajar bareng ulamâ (orang-orang berilmu, orang-orang yang takut kepada Allah), berada di lingkungan orang-orang yang tawadhu’ mâsyâ Allah.

Serakah ilmu itu bagus, tapi lihat kondisi, jangan menzalimi diri sendiri, pakai skala prioritas. Oleh sebab ini, aku menyerahkan mimpiku (sekolah lagi) kepada Allah Sang Maha Mengetahui. Kalau memang itu baik bagiku, baik bagi keluargaku, baik bagi duniaku dan baik bagi akhiratku, insyâ Allah ada jalannya, ada waktunya. Stop overthinking. Perbanyak syukur dan fokus curahkan energi kepada pilihan yang telah diputuskan. Life is beautiful.

Dasar keputusanku adalah firman-Nya, surah at-Thalâq/65:2-3 (takwa, pembuka jalan dan rezeki), At-Taghâbun/64: 16 (bertakwa sesuai kemampuan), Ibrahim/14:7 (bersyukur, nikmat akan ditambah). Allah SWT berfirman dalam sebuah hadis Qudsi,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ، وَفَضْلُ كَلَامِ اللهِ عَلَى سَائِرِ الكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ»

Diriwayatkan dari Abu Sa’id radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Ar-Robb ﷻ berfirman: “Barang siapa yang disibukan oleh al Qur’an dari berdzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku pasti memberikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada yang diberikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku. Dan keutamaan perkataan Allah atas seluruh perkataan adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 2916; Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, no. 1860, dan di dalam Al-Asma’ was Shifat, no. 507, sebagai hadis qudsi.

Wallahu a’lam.


TENTANG ANAK VERSUS ORANG TUA

Sebejad apapun kelakuan orangtua, bila dikembalikan kepada Al Quran & Hadis, tidak membatalkan kewajiban anak untuk taat dan bakti.

Termasuk jika orangtua menelantarkan anak, tidak memberikan nafkah dari sumber yang halal, mencoret namanya dari KK, mempermalukan anaknya di podcast-podcast, memviralkan video penjemputan, merusak mental anaknya... tetap tidak membatalkan kewajiban anak untuk taat dan bakti. 

Tidak pernah ada syarat dan ketentuan yang mengatakan "kecuali orangtuamu pelacur", atau "kecuali orangtuamu bandit", atau "kecuali ortumu nikmir", atau "kecuali ortumu tidak mengajarkan agama", atau "kecuali ibumu tidak berhijab", dan sebagainya. Anak tetap wajib taat dan berbakti. 

Pengecualian hanya satu  kondisi:  ketika orangtuamu menyuruhmu bermaksiat kepada Alloh, misalnya menyekutukan Alloh, ngajak murtad, nglarang salat, dsb. Tidak boleh taat. 

Orangtua adalah takdir si anak. Ketika ujiannya berupa mental health issue atau luka batin, sebaiknya anak dikonsultasikan ke psikolog atau psikiater, dan dipertemukan dengan guru-guru agama yang kompeten.  Saya pribadi masih berusaha rutin 6 bulan sekali berkunjung ke psikolog, karena saya tahu saya bukan ibu yang sempurna. Anak saya pun kalo sedang merasa tertekan oleh banyak tugas kuliah, jadwal ngajar, peran organisasi, dan aturan di rumah, dia inisiatif sendiri ketemu psikolognya. Ada psikolog yang murmer dekat rumah cuma bayar 200ribu per sesi tapi saya nggak mau share, entar makin rame pasiennya makin panjang lama antriannya. 

Kalo dirimu merasa related dengan problem Laura Mirzani, dan kamu seorang muslim, maka yang pilihan terbaik adalah minta bantuan profesional (ini wajib ya) dan tetap menyibukkan diri dengan ibadah: salat, baca Al Quran, menjaga wudhu, dan berzikir. Ini obat banget lohhh, alâ bidzikrillâh tatmainnul qulûb. 

Tinggalkan / menghindar dari lingkungan yang toksik. Bergaul dengan orang-orang saleh, jadiin bestiee. Mereka akan mengingatkan dan menguatkan ketika kita kendor. Terlibat dalam komunitas Al Quran. Minta nasehat guru-guru. Perbanyak istighfar. Dengan pertolongan Alloh, perlahan-lahan akan healed, sembuh luka batinnya. Tidak ada hasil yang instan yaaa. Maaf tidak terima japri curhat masalah keluarga yaaa 😄🙏 gue aja masih counseling. 

Wallahu a'lam.

TEMPAT TERINDAH BAGIKU

Tiga tempat yang paling indah:
1. di pikiranku: saat aku bersangka baik pada-Nya
2. di perasaanku: saat aku bersyukur sekecil apapun nikmat-Nya
3. di dalam doaku: saat kupasrahkan segala takut, cemas dan harapku hanya kepada-Nya.

Menulis, melepas rasa, memeluk asa. 

Caraku Hijrah Merk Skincare

Ngemeng² soal nyobain produk skincare yang dijual bebas, sependek yang kupahami sih, kalo mau jajal produk baru nihh, jangan sampai terhanyut testimoni  iklannya, jangan kalap pake satu rangkaian sekaligus (cleanser, toner, serum, day cream, night cream)nya. Karena, kulit kita butuh masa "perkenalan" dulu dengan produk baru. 

Biasanya aku istirahatkan dulu kulit alias cuma pake air wudhu. No krim-krim, at all. Seminggu. Kalo mau aktivitas outdoor ya pake masker N95, kacamata hitam, topi, payung, hindari paparan matahari. Cuma seminggu kokk. 😊

Kalo aku biasanya mulai dari tabir surya dulu. Aku juga nyaritau apakah ada sachetannya. Pakenya juga nggak tiap hari, dua kali seminggu dulu, terus tiga kali seminggu, terus lima kali seminggu, dan seterusnya. Kalo cocok, baru beli kemasan Tube-nya. 

Lanjutkan nyobain serum. Biasanya serum yang dipakai sebelum tabir surya, atau serum yang dipakai sebelum night cream. Polanya sama: dua kali seminggu dulu, terus tiga kali seminggu, dan seterusnya. Kalo cocok, baru beli kemasan jar-nya. 

Demikian juga pemakaian cleanser dan toner. Pakai cleanser dulu dua pekan pertama. Tanpa toner ya. Kalo aman, gak ada masalah, baru pakai tonernya. Polanya pun sama: dua kali seminggu dulu, terus tiga kali seminggu, dan seterusnya. 

Begitu juga dengan day cream dan night cream-nya. Polanya sama. Kenalan dulu. Sabar 👍😄 kalem, ojokesusu. 

Kenapa? 

Kalo ada masalah di kulit, aku bisa langsung tau penyebabnya: ohhh berarti aku nggak cocok serumnya, atau ohhh berarti aku nggak cocok night creamnya, atau ohhh berarti aku nggak cocok tonernya. Nahhh biasanya kalo aku nggak cocok krim-krimnya, kalo nggak mau dihibahkan ke orang lain, ya kupakai jadi krim tangan dan kaki. Kalo nggak cocok cleanser aku jadiin pembersihan tangan.

Rekomendasi produk skincare: Viva, Hanasui, Oriflame, Natasha, Suncare. 

Ini pengetahuan dan pengalaman pribadi ya. Mungkin nggak up-to-date. Jadi, kalo ada pengetahuan dan pengalaman yang berbeda boleh sharing di kolom komentar.  Makasihhh 🙏😊

BERSERAH ATAU MENYERAH?

Kemarin suami ngajak keluyuran ke Puncak, tapi nggak berhenti di sana, nyelonong teruss lewatin Cipanas-Cianjur. Saya pikir sekalian sowan ke STIQ ZAD, kampus tempat Ustazah Miftahurrahmi dan suaminya, Ustad Anggi Maulana, mukim dan mengajar sebagai dosen. Mereka berdua adalah teman sekelasku di Pascasarjana Universitas PTIQ. Saat ini master thesis mereka masih "on the way" Bab IV. Ustazah Miftahurrahmi sering ngajak diskusi by WA baik soal teknis penulisan maupun substansi. Jadi mereka seneng banget denger aku mau mampir. Mereka bela-belain izin "madol" rapat, haha, sok penting banget akutu. 😜

Kami numpang salat 'Ashar di rumahnya sebelum ngobrol asyik tentang keluarga, kesibukan sehari-hari, dan planning ke depannya setelah lulus mau apa. Kusampaikan maksud kedatangan kami untuk menitipkan wakaf bukuku di perpustakaan ZAD. Alhamdulillah mereka menyambut dengan ekspresi senang dan memuji Allah. Mereka langsung curhat progress master thesisnya, mengikhlaskan wisuda tahun ini karena secara realistis emang nggak keburu. Menyelesaikan Bab IV memang butuh ketenangan dan energi fokus untuk menyelesaikannya. Sedangkan, peran dan tanggung jawab mereka di kampus serta keluarga dengan dua balita di rumah sudah dapat terbayangkan betapa melelahkannya. 

Padahal kampus tempat mereka berkhidmat sudah siap bayarin S3 mereka. Aku langsung berseloroh, "Boleh gak Ustad, slot S3nya buat aku dulu, haha. Aku mau dehhh mengabdi dan mukim di ZAD kalo komitmennya mengharuskan. Haha."
Mereka tersenyum nyengir kuda 😁😁 
O-ow, salah ngomong nihh aku, wkwkw. 
Buru-buru kubelokin fokus obrolan ke thesis. Mereka menyampaikan komentar profesor dan duktur penguji sidang proposal dan minta masukan dari sudut pandangku. 

Suamiku terlihat antusias ngobrol sama Ustad, sementara aku lanjut ngobrol sama Ustazah. Mungkin saking terkesannya, di dalam mobil saat pulang, suamiku memuji Ustad dan mengulang komentar, "Bu Afiya sekarang bolak-balik healing ajaa dan fokus ngajar tahsin. Happy-happy ajaa. Ustad Anggi kelihatannya bukan karakter orang yang senang becanda ya Fî? Orang kayak beliau itu kalo ngomong sudah pasti ada dasarnya, ada ilmunya," dengan nada yang bikin aku OVT: apa ini isyarat, aku tidak layak? Aku tidak akan mampu bertahan sampai lulus? Apakah ini pertanda, aku harus melepaskan impian itu? 

TAWAKKALTU S3

Pekan lalu, Senin 7 Oktober 2024, aku kembali melakukan salah satu ikhtiar demi boleh melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Investasi pendidikan S3 tidak sedikit dan sampai detik ini aku belum ketemu sponsor atau beasiswa untuk nenek-nenek 50++ hehehe. Jadi, aku harus mengajar supaya ilmu tetap up-to-date dan hopefully bisa menabung untuk bayar pendaftaran, SPP sampai lulus. 

Networking, ziarah ke guru-guru kampus STIS Al-Manar Utan Kayu Jakarta Timur, lembaga pendidikan di mana aku pernah kursus Bahasa Arab (sampai mustawa al-râbi' tapi belum sempat lulus keburu pandemi). Guru-guru bahasa Arab di sana, sebagian menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi Islam. Sapatau ada peluang aku ngajar di PT tempat mereka mengajar. Sebelumnya, aku mampir dulu di Kang Pisang Goreng Kipas yang mangkal dekat kampus, bawa oleh-oleh dong. 

Jam 10.30 aku dijamu Ustad Musyawir (UM) dan Ustad Ahmad Ghozali (UAG), yang pernah mengajarku di mustawa al-awwal dan mustawa ats-tsâni. Kusampaikan maksud kedatanganku yakni untuk melanjutkan kursus sampai lulus, dan untuk mewakafkan buku (thesis)ku untuk menambah koleksi referensi di perpustakaan kampus-kampus. 

UM: wahh, lama banget ngilang nggak kedengeran kabarnya, dateng-dateng bawa kabar gembira nih. Mâsyâ Allah. 

UAG: selamat ya bu, rasanya baru kemarin ibu privat   daring 5x sepekan sama saya. Tau-tau dah jadi thesisnya. Mâsyâ Allah. 

Saya: Alhamdulillah berkat bantuan dan doa Ustad, ilmu dari Ustad insyaallah nâfi'an jâriyah juga dalam buku ini. 

Sampai azan Dzuhur obrolan hangat kami seputar isi buku dan proses penyusunannya. Ustad Rajasa (sang pengambil keputusan apakah saya bisa langsung atau harus tes dulu, dan bisa gabung level berapanya) belum hadir tapi sudah berkabar dalam perjalanan meluncur STIS AL-MANAR. UM dan UAG memperkaya substansi dengan dalil-dalil berbahasa Arab karena mereka lulusan LIPIA dan Madinah. Mâsyâ Allah. 

Selesai salat Dzuhur berjamaah di Masjid (bangunan ini terdiri atas dua lantai: lantai atas kampus, lantai bawah Masjid Jami' yang mampu menampung 500an jamaah), saya bertemu Ustad Aminuddin (UA) yang pernah mengajar saya di mustawa ats-tsâlits & mustawa al-râbi'. Beliau mengajak saya ngobrol di sekertariat kampus. 

UA: gimana, langsung lanjut S3 bu? 

Saya: mohon doanya Ustad, maunya sih langsung tapi hilalnya belum terlihat, hehehe. 

UA: waaah sebaiknya sih segera bu, karena semangat itu bisa berubah-ubah... 

Saya: sahîh Ustad, makanya salah satu cara saya usaha menyelesaikan kursus bahasa Arab di sini, untuk menjaga semangat belajar, sambil mempersiapkan bakal penelitian yang akan dilakukan ketika waktunya tiba, insyaallah. 

UA menanyakan anak-anak saya dan berbagi cerita pengalaman masa pendidikannya. Beliau juga menyarankan untuk anakku yang di LIPIA nanti begitu lulus langsung segera urus penyetaraan ijasahnya di Kemenag. Jangan ditunda karena beda menteri beda kebijakan. Ini saran untuk mahasiswa yang kuliah di kampus-kampus yang terafiliasi dengan negara Timur Tengah, yâ. 

Ustad Amin Kholid (UAK) yang pernah mengajarku di mustawa al-awwal & mustawa ats-tsâni gabung. Beliau ini juga terlibat dalam proses penyusunan thesis aku, memberikan pandangan-pandangan, inspirasi, dan rekomendasi kitab babon atau buku-buku yang penting kubaca juga. Beliau ini yang gaya ngajarnya paling rileks, kagak jaim. Pernah aku koreksi, beliau sempat ngotot, namun aku tidak menunjukkan kesalahan, tapi aku cecer dengan pertanyaan-pertanyaan, sampe beliau ngehh salah, "O iya". Aku komentar, "Gakpapa salah yang penting ngegas." 😅🙏 Beliau ketawa lepas.

Nahh, UAK ini yang dilabeli sebagai dosen terbang. UAK ini salah satu sasaran aku titip buku wakaf dan yaaa sapatau Allah meridhoi aku ngajar di kampus ini, udah lokasinya deket rumah, dosen-dosennya lulusan LIPIA & Madinah, bahasa obrolan mereka pake bahasa Arab pulak. Kan, peluang saya bisa sekalian ngelancarin ngemeng Arab juga, ya kaaann. Mimpi dulu ajee. 😜 

Terakhir, yang ditunggu-tunggu datang jugak. Ustad Rajasa, the decision maker. Ngobrolin isi buku aku juga, padahal beliau cuma baca sampul belakangnya doang, udah bisa nebak poin-poin yang kubahas. Daebak! Mâsyâ Allah. Beliau juga ngejelasin perubahan dalam KBM bahasa Arab: Senin sampai Rabu cuma dua jam, bukunya sama. Jadi, aku nggak perlu beli buku lagi, dan diizinkan langsung gabung mustawa ats-tsâlits (level tiga). Alhamdulillah 'alâ kulli hâl. 

Dalam perjalanan pulang, aku berdoa, Ya Allah aku telah melakukan "sai" sebagaimana ikhtiar ibunda Hajar mencari air, dan Engkau tetapkan zamzam itu di dekat bayi Ismail. Ya Allah, upayaku ini juga karena izin-Mu, dayaku adalah "pinjaman" dari-Mu, maka berilah hidayah skill apa lagi yang harus kupelajari, siapa lagi yang perlu aku temui, kemana lagi langkah kaki ini, dan kuberserah kepada-Mu dimana letak "zamzam"-ku.

PS. 
Enggak berani minta poto bareng.

MAKALAHKU DIULAS ADMIN IKLILA

Jumat jam 4 sore aku terima pesan whatsapp dari Dr. Kerwanto yang melampirkan makalahku tahun lalu beserta catatan untuk direvisi. Baru diminta revisinya sekarang. Rasanya antara seneng dan senep, sihhh. Kalo berhasil dalam kurasi, bisa naik jadi jurnal yang dipublikasikan IAI Khozinatul Ulum Blora. Aku semangat antusias karena berburu referensi lagi, merangkum lagi, analisis lagi. Beliau minta sesegera mungkin dikirim revisinya, tapi aku nawar minta waktu lima hari. Alhamdulillah tadi malam (hari keempat) jam 7 selesai. Kukirim ke Dr. Kerwanto. Temanya adalah, ehemm, yang dulu-dulu paling aku hindari, tapi yang namanya udah rezeki, mau lari kemana juga, nomplok wehh. Alhamdulillah 'alâ kulli hâl. 😄🤲