Rabu, 11 Februari 2026
Membaca Drakor Can This Love Be Translated? POV Al Qur'an dan Tafsir
Strategi Praktis Membangun Secure Attachment (Versi Islami-Psikologis)
Analisis Psikologis Drakor Can This Love Be Translated?: Anxious vs Avoidant Attachment yang Bikin Hubungan Rumit Tapi Realistis
Drakor Can This Love Be Translated? bukan cuma soal romansa beda bahasa. Kalau kita kupas lebih dalam, drama ini sebenarnya menggambarkan dinamika psikologis yang sangat nyata: hubungan antara individu dengan anxious attachment dan avoidant attachment. Kombinasi ini sering terjadi di dunia nyata—dan sering juga bikin hubungan terasa intens tapi melelahkan.
Artikel ini akan membahas analisis psikologis Cha Mu-hee dan Ho-jin dari perspektif teori attachment, lengkap dan aplikatif.
Apa Itu Attachment Theory?
Sebelum masuk ke karakter, kita pahami dulu dasarnya.
Attachment theory adalah teori psikologi yang menjelaskan bagaimana pola kedekatan emosional seseorang terbentuk sejak masa kecil berdasarkan hubungan dengan pengasuh utama.
Ada tiga pola utama:
- Secure attachment (aman dan stabil)
- Anxious attachment (cemas dan takut ditinggalkan)
- Avoidant attachment (menghindari kedekatan emosional)
Dalam Can This Love Be Translated?, Cha Mu-hee cenderung menunjukkan pola anxious attachment, sedangkan Ho-jin lebih mengarah ke avoidant attachment.
Cha Mu-hee dan Anxious Attachment
Cha Mu-hee digambarkan sebagai sosok yang emosional, butuh kejelasan, dan sensitif terhadap perubahan respons. Ketika Ho-jin terlihat dingin atau ambigu, kecemasannya langsung aktif.
Ciri anxious attachment yang terlihat pada Mu-hee:
- Butuh reassurance secara konsisten
- Overthinking saat komunikasi terasa berbeda
- Sensitif terhadap jarak emosional
- Takut kehilangan meskipun belum ada ancaman nyata
Secara psikologis, individu dengan anxious attachment biasanya tumbuh dalam lingkungan yang respons emosinya tidak konsisten. Kadang dipeluk, kadang diabaikan. Otak belajar bahwa cinta itu tidak stabil, sehingga saat dewasa mereka cenderung “mengejar” kedekatan agar merasa aman.
Mu-hee bukan lemah. Justru biasanya orang dengan anxious attachment sangat hangat, empatik, dan penuh perhatian. Masalahnya bukan pada kapasitas cinta, tapi pada rasa aman internalnya.
Ho-jin dan Avoidant Attachment
Sebaliknya, Ho-jin terlihat rasional, terkontrol, dan nyaman dalam jarak emosional. Dia profesional, logis, dan tidak terlalu ekspresif. Ketika hubungan mulai intens, ia cenderung menarik diri.
Ciri avoidant attachment pada Ho-jin:
- Sulit mengungkapkan kebutuhan emosional
- Menarik diri saat hubungan semakin dekat
- Lebih nyaman dengan kemandirian
- Menghindari percakapan emosional mendalam
Avoidant attachment biasanya terbentuk ketika kebutuhan emosional masa kecil sering diabaikan atau dianggap berlebihan. Anak belajar bahwa bergantung pada orang lain tidak aman, sehingga strategi bertahannya adalah menjadi sangat mandiri.
Ho-jin bukan tidak punya perasaan. Ia hanya terbiasa memprosesnya sendiri tanpa melibatkan orang lain.
Kenapa Anxious dan Avoidant Sering Saling Tertarik?
Ini bagian yang menarik.
Dalam psikologi hubungan, anxious dan avoidant sering tertarik satu sama lain karena secara bawah sadar mereka saling melengkapi luka masing-masing.
Anxious merasa tertarik pada sosok yang terlihat stabil dan tidak clingy.
Avoidant tertarik pada kehangatan dan ekspresi emosional si anxious.
Namun setelah hubungan berjalan, muncul pola klasik:
Anxious mengejar → Avoidant merasa tertekan → Avoidant menjauh → Anxious makin cemas → Siklus berulang.
Inilah yang disebut protest–withdraw pattern.
Drama ini menggambarkan pola tersebut secara halus melalui komunikasi yang ambigu, diam yang terlalu lama, dan kebutuhan emosional yang tidak tersampaikan secara langsung.
Konflik Mereka Bukan Soal Cinta, Tapi Soal Rasa Aman
Yang sering disalahpahami: hubungan anxious–avoidant bukan berarti kurang cinta.
Masalahnya ada pada regulasi emosi dan rasa aman internal.
- Mu-hee ingin diyakinkan bahwa ia cukup dicintai tanpa harus terus membuktikan diri.
- Ho-jin ingin diyakinkan bahwa ia tetap bebas dan tidak kehilangan kontrol meski menjalin kedekatan.
Ini bukan konflik ego semata. Ini konflik sistem saraf.
Apakah Hubungan Anxious dan Avoidant Bisa Berhasil?
Jawaban jujurnya: bisa, tapi tidak otomatis.
Hubungan seperti ini membutuhkan:
- Kesadaran diri yang tinggi
- Komunikasi yang jujur tanpa defensif
- Kemauan untuk bergerak menuju secure attachment
Anxious perlu belajar menenangkan diri tanpa langsung mengejar.
Avoidant perlu belajar tetap hadir walau merasa tidak nyaman.
Tanpa pertumbuhan, hubungan akan terasa dramatis tapi melelahkan. Dengan pertumbuhan, keduanya bisa saling menyembuhkan.
Pesan Psikologis dari Can This Love Be Translated?
Drama ini sebenarnya mengajarkan satu hal penting: cinta tidak gagal karena kurang perasaan, tapi karena ketidakmampuan mengelola ketakutan.
Cinta bukan hanya tentang chemistry. Cinta dewasa adalah keberanian untuk:
- Mengakui kebutuhan emosional
- Menghadapi rasa takut ditolak
- Tetap hadir meskipun tidak nyaman
Dan mungkin, pertanyaan terbesar bukan lagi “Can this love be translated?”
Tapi:
“Can we stay when our fears are triggered?”
Karena pada akhirnya, hubungan sehat bukan tentang menemukan pasangan sempurna, melainkan tentang dua orang yang bersedia bertumbuh menuju versi diri yang lebih aman dan matang secara emosional.
Baca juga:
Membangun Secure Attachment versi Psikologi Islam