Sabtu, 08 November 2025

PANGKU


Sebuah Refleksi Tentang Perempuan yang Bertahan di Dunia yang Tak Adil

Siang itu, sambil menunggu Mama selesai dibekam dan pijat, saya gaasss ke CGV GPS nonton film PANGKU karya Reza Rahadian. Review orang-orang di media sosial bikin saya penasaran buta, afa iyya sebagus itu? Saya tak paham sinematografi, jadi tulisan ini hanya spoiler tipis-tipis dan refleksi pribadi. 

Film ini menyoroti perempuan-perempuan di pesisir utara Jawa yang bekerja di warung “kopi pangku” — tempat di mana pelanggan menikmati kopi sambil ditemani perempuan di pangkuannya.
Dari luar, kesannya murahan. Tapi di baliknya tersimpan kisah kemiskinan, pengorbanan, dan cinta yang dipaksa diam.

Tokoh utamanya, seorang ibu tunggal, berjuang keluar dari lingkaran itu. Tapi realitas sosial dan ekonomi seperti jerat yang menahannya. Film ini tidak menyalahkan, tidak menghakimi. Ia hanya memperlihatkan, dan di sanalah letak kekuatannya: jujur, sunyi, dan menyayat..

Dua jam sepulang nonton, saya terpaksa minum parasetamol karena sesakit itu kepalaku. Overthinking; dimana peran negara? Bukankah pasal 34 UUD 1945 menyatakan fakir miskin dan orang terlantar dipelihara oleh negara? Masalah ini nggak bisa terurai selesai ditangani personal atau lembaga/yayasan. 

Pada tahun 1991-1993 beberapa teman dan saya pernah ngajar anak-anak keluarga marjinal di daerah Cilincing. Kami yang mengajar harus bawa makanan untuk mereka agar mereka mau belajar. Karena, ketika mereka belajar, mereka tidak bekerja, berarti tidak dapat uang atau mengurangi penghasilan mereka hari itu. Demikian juga ketika harus mengumpulkan para orangtuanya untuk edukasi kesehatan dan pendidikan, kami harus bawa besek sebanyak orang yang kumpul. Qadarullah, saya menyerah di tengah jalan, di samping energi dan waktu dominan tersita tugas kuliah juga. 

Film ini juga mengingatkanku pada kisah baby sitter pertama kami, Sus Mar, datang merawat putri kami yang baru berumur dua pekan. Pantesan sabar, telaten, kayak sama anak sendiri. Ternyata, dia meninggalkan bayinya yang seumuran putri kami juga. Baju seragamnya sering ganti karena basah oleh rembesan ASI. Dia asli Madiun. Suaminya KDRT dan pulang ke rumah perempuan lain. Sus Mar terpaksa merantau ke Jakarta demi menjadi tulang punggung keluarga untuk membiayai orangtua yang merawat bayinya di kampung dan agar anak sulungnya tetap bisa lanjut sekolah.

Dari perspektif psikologi, film ini menyoroti coping mechanism perempuan yang hidup di bawah tekanan. Mereka tampaknya pasrah, padahal sedang berjuang dengan cara mereka sendiri. Di sisi lain, tradisi ekonomi informal seperti kopi pangku mencerminkan kegagalan sistem sosial dalam menjamin pilihan bermartabat bagi perempuan.

Meskipun ada bagian diri saya merasa sedih setengah frustrasi karena tidak mampu berbuat membantu, film ini telah berhasil memaksa ku lebih banyak bersyukur, bahwa  Allâh SWT telah melindungi keluarga kami dari fitnah (ujian/ balâ' ) yang demikian. Bersyukur, masih diberi banyak pilihan dalam hidup. Bersyukur, masih bisa berbagi manfaat walau tidak ideal. Bersyukur masih bisa melihat, mendengar, dan bernapas tanpa bantuan selang dan tabung oksigen. Bersyukur atas ni'mat iman islam, pertolongan, bahkan karunia yang tak terlintas dalam doa.. Bersyukur, masih....... 


1. Surah Ibrâhîm [14]: 34

“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat kufur.”

2. Surah An-Nahl [16]: 18

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar