Drakor Can This Love Be Translated? bukan sekadar kisah romansa lintas bahasa. Jika dibaca lebih dalam, dinamika Cha Mu-hee dan Ho-jin mencerminkan pola psikologis yang dikenal sebagai anxious attachment dan avoidant attachment.
Namun, bagaimana jika fenomena ini kita lihat dari perspektif tafsir Al-Qur’an? Apakah konsep attachment memiliki padanan dalam khazanah keilmuan Islam?
Artikel ini membahas anxious dan avoidant attachment dalam perspektif tafsir serta konsep sakinah sebagai model secure attachment Qur’ani.
---
Apa Itu Attachment dalam Psikologi?
Attachment theory menjelaskan bagaimana pola kedekatan emosional seseorang terbentuk sejak masa kecil.
Tiga pola utama adalah:
Secure attachment (aman dan stabil)
Anxious attachment (cemas dan takut ditinggalkan)
Avoidant attachment (menghindari kedekatan emosional)
Dalam drama ini, Cha Mu-hee menunjukkan ciri anxious attachment, sementara Ho-jin cenderung avoidant. Dinamika keduanya menciptakan pola tarik-ulur yang emosional dan kompleks.
---
Anxious Attachment dalam Perspektif Tafsir
Dalam Al-Qur’an, terdapat gambaran tentang sifat dasar manusia yang mudah gelisah.
QS. Al-Ma’arij: 19–21 menyebut manusia sebagai halû‘a—bersifat gelisah ketika tertimpa kesulitan dan kikir ketika mendapat kebaikan.
Beberapa mufasir menjelaskan bahwa sifat ini menunjukkan kecenderungan jiwa yang tidak stabil ketika rasa aman bergantung pada faktor eksternal.
Anxious attachment memiliki pola serupa:
Takut kehilangan cinta
Sensitif terhadap jarak emosional
Bergantung pada kepastian dari orang lain
Jika hati menggantungkan rasa aman sepenuhnya pada makhluk, maka ketenangan menjadi rapuh.
QS. Ar-Ra’d: 28 menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Dalam perspektif tafsir, dzikrullah berfungsi sebagai pusat stabilitas batin.
Artinya, kecemasan relasional dapat mereda ketika hati memiliki sandaran yang lebih kokoh daripada sekadar validasi manusia.
---
Avoidant Attachment dalam Perspektif Qur’ani
Sementara itu, Al-Qur’an juga menggambarkan tipe manusia yang merasa cukup dengan dirinya.
QS. Al-‘Alaq: 6–7 menyebut manusia melampaui batas karena merasa dirinya cukup (istighna’).
Avoidant attachment sering terlihat sebagai kemandirian ekstrem. Namun dalam kacamata tafsir, sikap terlalu merasa cukup dapat menjadi penghalang kedekatan emosional.
QS. Al-Isra’: 83 menggambarkan manusia yang berpaling ketika diberi nikmat. Sikap menjauh ini menunjukkan pola defensif terhadap ketergantungan.
Avoidant bukan berarti tidak punya rasa. Tetapi ketakutan terhadap kedekatan sering disamarkan sebagai kebutuhan akan kontrol dan otonomi.
Dalam tafsir tasawuf, hati yang terlalu bergantung pada ego akan sulit mengalami ketenangan yang sejati.
---
Sakinah: Model Secure Attachment dalam Al-Qur’an
QS. Ar-Rum: 21 menjelaskan tujuan pernikahan adalah agar manusia memperoleh sakinah.
Sakinah bukan sekadar rasa nyaman sesaat, tetapi ketenangan eksistensial yang stabil.
Dalam konteks attachment:
Anxious terlalu dominan rasa takut kehilangan.
Avoidant terlalu dominan kebutuhan kontrol.
Secure attachment berada di tengah, dengan keseimbangan antara harap dan takut.
Dalam tradisi tafsir, keseimbangan ini dikenal sebagai perpaduan antara khauf (takut) dan roja’ (harap), yang melahirkan tawakkal.
Secure attachment Qur’ani bukan berarti tidak pernah cemas.
Namun hati memiliki anchor yang kuat sehingga kecemasan tidak mengendalikan keputusan.
---
Membaca Can This Love Be Translated? Secara Tadabbur
Jika dilihat dari perspektif mufasir, konflik Cha Mu-hee dan Ho-jin bukan sekadar masalah komunikasi.
Itu adalah refleksi manusia yang:
Mencari rasa aman
Takut kehilangan
Takut terlalu dekat
Al-Qur’an mengarahkan agar rasa aman tidak sepenuhnya digantungkan pada makhluk. Ketika hati memiliki orientasi tauhid yang kuat, hubungan horizontal menjadi lebih sehat.
Tanpa fondasi spiritual:
Anxious akan terus mengejar kepastian.
Avoidant akan terus menjaga jarak.
Dengan fondasi tauhid: Cinta menjadi ruang sakinah, bukan arena survival emosional.
---
Penutup
Fenomena anxious dan avoidant attachment dalam Can This Love Be Translated? dapat dibaca sebagai refleksi kondisi hati manusia.
Dalam perspektif tafsir Al-Qur’an:
Kecemasan berlebihan muncul ketika hati tidak memiliki sandaran yang stabil.
Kemandirian ekstrem muncul ketika ego menjadi pusat keamanan.
Sakinah lahir dari keseimbangan, tawakkal, dan orientasi tauhid.
Pertanyaan terdalam bukan hanya apakah cinta dapat diterjemahkan, tetapi apakah hati telah menemukan ketenangan sebelum meminta orang lain menjadi sumber ketenangan tersebut.
Dengan pendekatan ini, drakor tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang tadabbur tentang kondisi jiwa dan arah cinta manusia.
Wallâhu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar