Pekan lalu, Senin 7 Oktober 2024, aku kembali melakukan salah satu ikhtiar demi boleh melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Investasi pendidikan S3 tidak sedikit dan sampai detik ini aku belum ketemu sponsor atau beasiswa untuk nenek-nenek 50++ hehehe. Jadi, aku harus mengajar supaya ilmu tetap up-to-date dan hopefully bisa menabung untuk bayar pendaftaran, SPP sampai lulus.
Networking, ziarah ke guru-guru kampus STIS Al-Manar Utan Kayu Jakarta Timur, lembaga pendidikan di mana aku pernah kursus Bahasa Arab (sampai mustawa al-râbi' tapi belum sempat lulus keburu pandemi). Guru-guru bahasa Arab di sana, sebagian menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi Islam. Sapatau ada peluang aku ngajar di PT tempat mereka mengajar. Sebelumnya, aku mampir dulu di Kang Pisang Goreng Kipas yang mangkal dekat kampus, bawa oleh-oleh dong.
Jam 10.30 aku dijamu Ustad Musyawir (UM) dan Ustad Ahmad Ghozali (UAG), yang pernah mengajarku di mustawa al-awwal dan mustawa ats-tsâni. Kusampaikan maksud kedatanganku yakni untuk melanjutkan kursus sampai lulus, dan untuk mewakafkan buku (thesis)ku untuk menambah koleksi referensi di perpustakaan kampus-kampus.
UM: wahh, lama banget ngilang nggak kedengeran kabarnya, dateng-dateng bawa kabar gembira nih. Mâsyâ Allah.
UAG: selamat ya bu, rasanya baru kemarin ibu privat daring 5x sepekan sama saya. Tau-tau dah jadi thesisnya. Mâsyâ Allah.
Saya: Alhamdulillah berkat bantuan dan doa Ustad, ilmu dari Ustad insyaallah nâfi'an jâriyah juga dalam buku ini.
Sampai azan Dzuhur obrolan hangat kami seputar isi buku dan proses penyusunannya. Ustad Rajasa (sang pengambil keputusan apakah saya bisa langsung atau harus tes dulu, dan bisa gabung level berapanya) belum hadir tapi sudah berkabar dalam perjalanan meluncur STIS AL-MANAR. UM dan UAG memperkaya substansi dengan dalil-dalil berbahasa Arab karena mereka lulusan LIPIA dan Madinah. Mâsyâ Allah.
Selesai salat Dzuhur berjamaah di Masjid (bangunan ini terdiri atas dua lantai: lantai atas kampus, lantai bawah Masjid Jami' yang mampu menampung 500an jamaah), saya bertemu Ustad Aminuddin (UA) yang pernah mengajar saya di mustawa ats-tsâlits & mustawa al-râbi'. Beliau mengajak saya ngobrol di sekertariat kampus.
UA: gimana, langsung lanjut S3 bu?
Saya: mohon doanya Ustad, maunya sih langsung tapi hilalnya belum terlihat, hehehe.
UA: waaah sebaiknya sih segera bu, karena semangat itu bisa berubah-ubah...
Saya: sahîh Ustad, makanya salah satu cara saya usaha menyelesaikan kursus bahasa Arab di sini, untuk menjaga semangat belajar, sambil mempersiapkan bakal penelitian yang akan dilakukan ketika waktunya tiba, insyaallah.
UA menanyakan anak-anak saya dan berbagi cerita pengalaman masa pendidikannya. Beliau juga menyarankan untuk anakku yang di LIPIA nanti begitu lulus langsung segera urus penyetaraan ijasahnya di Kemenag. Jangan ditunda karena beda menteri beda kebijakan. Ini saran untuk mahasiswa yang kuliah di kampus-kampus yang terafiliasi dengan negara Timur Tengah, yâ.
Ustad Amin Kholid (UAK) yang pernah mengajarku di mustawa al-awwal & mustawa ats-tsâni gabung. Beliau ini juga terlibat dalam proses penyusunan thesis aku, memberikan pandangan-pandangan, inspirasi, dan rekomendasi kitab babon atau buku-buku yang penting kubaca juga. Beliau ini yang gaya ngajarnya paling rileks, kagak jaim. Pernah aku koreksi, beliau sempat ngotot, namun aku tidak menunjukkan kesalahan, tapi aku cecer dengan pertanyaan-pertanyaan, sampe beliau ngehh salah, "O iya". Aku komentar, "Gakpapa salah yang penting ngegas." 😅🙏 Beliau ketawa lepas.
Nahh, UAK ini yang dilabeli sebagai dosen terbang. UAK ini salah satu sasaran aku titip buku wakaf dan yaaa sapatau Allah meridhoi aku ngajar di kampus ini, udah lokasinya deket rumah, dosen-dosennya lulusan LIPIA & Madinah, bahasa obrolan mereka pake bahasa Arab pulak. Kan, peluang saya bisa sekalian ngelancarin ngemeng Arab juga, ya kaaann. Mimpi dulu ajee. 😜
Terakhir, yang ditunggu-tunggu datang jugak. Ustad Rajasa, the decision maker. Ngobrolin isi buku aku juga, padahal beliau cuma baca sampul belakangnya doang, udah bisa nebak poin-poin yang kubahas. Daebak! Mâsyâ Allah. Beliau juga ngejelasin perubahan dalam KBM bahasa Arab: Senin sampai Rabu cuma dua jam, bukunya sama. Jadi, aku nggak perlu beli buku lagi, dan diizinkan langsung gabung mustawa ats-tsâlits (level tiga). Alhamdulillah 'alâ kulli hâl.
Dalam perjalanan pulang, aku berdoa, Ya Allah aku telah melakukan "sai" sebagaimana ikhtiar ibunda Hajar mencari air, dan Engkau tetapkan zamzam itu di dekat bayi Ismail. Ya Allah, upayaku ini juga karena izin-Mu, dayaku adalah "pinjaman" dari-Mu, maka berilah hidayah skill apa lagi yang harus kupelajari, siapa lagi yang perlu aku temui, kemana lagi langkah kaki ini, dan kuberserah kepada-Mu dimana letak "zamzam"-ku.
PS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar